MUQADIMAH

Wahai orang tahu namun tidak tahu dalam tahunya
Wahai orang bodoh tapi tidak tahu dalam bodohnya

Bolehkah aku mengundang hati kalian untuk sejenak berwisata meninggalkan batas ruang dan waktu sekedar menengok sebuah peradaban di belahan dunia lain dimana harapan dan mimpi telah sirna, ratapan dan tangisan sudah tidak terdengar lagi, disana kalian akan menyaksikan pesona penuh warna yang ditampilkan oleh orang bodoh lagi dungu yang kebodohan dan kedunguannya tidak pernah bertepi laksana samudera tak berpantai.

Mereka dengan kepolosannya mampu mengukur jarak antara bumi dan langit hanya dengan ukuran inchi, menimbang berat jutaan galaksi hanya dengan selembar lentik bulu matanya. Memang pemandangan yang menggelikan dan sekaligus menggilakan apabila cara pandang kalian dengan hati yang penuh intrik, tapi aku yakin kalian akan mengaguminya jikalau hati yang penuh pancaran illahi meliriknya. Karena mereka adalah para “Asyiq” baru kali pertamanya pucuk dicinta ulam tiba dan gayung pun bersambut.

Maukah aku tunjukan panorama lebih indah lagi datang dari para majnun yang menggila di gandrungi cinta lebih gila dari cerita cinta Majnun dan Laila. Kisah kegilaannya Al-Qois menyanjung Laila hingga setiap malam ia selalu menciumi tembok-tembok rumah gadis pujaanya dan ia berujar aku menciumi tembok ini bukannya aku mencintai temboknya tetapi mencintai gadis yang tiggal dibalik tembok ini, disaat yang lain Al-Qois pernah menciumi kaki anjing karena ia yakin anjing baru saja lewat dari rumah Laila. Rangkaian kegilaan inlah hingga al-Qois digelari Majnun oleh Al-Hasan. Tapi kemajnunan Al-Qois tidaklah seberapa dibanding dengan kegilaan Al-Qois – Al-Qois dilangit sana, sambil disirami anggur merah cinta semakin membahan asmara tambah bergelora membakar jiwa sampai seluruh lapisan tubuh membeku.

Akal kalian tidak akan mampu membayangkan gejolak yang membara kala mereka bertemu kekasihnya diperaduan. Kalaulah tidak dibatasi takdir, bumi dan langit pun akan meleleh laksana salju diterpa sinar mentari setiap saat menyaksikan mereka bercengkrama memadu kasih. Andai kalian berhasrat untuk mengetahuinya atau bahkan ingin menyelam didalamnya maka penuhilah undanganku, mari duduk bersama dilorong kegelapan dimana luka alas terpijak duka atap yang diusung dan hanya empedu minuman yang tersuguh. Sungguh tempat yang menyayat hati, mungkin kata inilah yang paling pantas tapi justru dari sinilah para “Asyiq” memulai cintanya dan meminang kekasihnya.

Berpikirlah seribu kali sebelum kalian memenuhi undanganku karena kalian adalah darah daging manusia selamanya dua kutub menghimpit dirimu, dan ingatlah andai tali gitar itu tertarik begitu kencang maka tali itu akan putus tetapi jika tali itu dibiarkan mengendor maka tidak akan ada dawai yang mengalun indah.

Apabila kalian sudah yakin sepenuh hati untuk menjadi penghuni rumah duka nestapa, tempat derita, ladang pembantaian asa ini, segeralah buka pintunya dan masuklah tapi sayang tak ada tempat kembali.

Maafkan aku wahai saudaraku yang dungu, telah congkak mengundang kalian seolah aku biangnya para Asyiq padahal aku masih sama seperti kalian, sama-sama orang dungu dan sama-sama orang goblok yang kebingungan disahara ketololan.


EmoticonEmoticon